Televisi

Teknologi

Transportasi

Lainnya

TeddyTV Projects

Muhammmad Zaadit Taqwa, ketua BEM UI, memberikan "kartu kuning" kepada Presiden RI, Joko Widodo, dalam acara Dies Natalis UI ke-68 (Sumber foto: metrotvnews.com)
"Ada apa sih dengan Draf Permendikti itu, sampe-sampe jadi alasan Zaadit buat jadi "wasit"-nya Jokowi? "


Hai, sudah lama saya tidak membuat artikel di blog pribadi saya ini. Oke, seiring dengan logo baru yang sudah digunakan sejak 9 Agustus 2017 lalu, kini saya akan mengubah konsep blog pribadi saya yang selama ini kurang terurus selama kuliah hehe.

Jadi, blog-blog pribadi saya ini akan terbagi ke beberapa blog yang memiliki bahasan tertentu. Jadi, satu blog untuk satu bahasan. Tujuannya apa? Biar saya bisa mengembangkan konten di tiap blog. Jadi, ga campur-campur kayak sebelumnya. Selain itu, saya juga bisa mengembangkan potensi masing-masing blog saya untuk monetisasi. Dimana, seringkali syaratnya blog tersebut tidak boleh "gado-gado" (banyak konten dengan bahasan yang berbeda-beda)

Selama ini, konten blog TeddyTV lebih ke arah Televisi dan Teknologi. Namun, akhir-akhir ini saya juga menerbitkan konten opini pribadi di blog TeddyTV ini. Untungnya, saya menemukan platform baru bernama My.id, sebuah platform blogging buatan PANDI (pengelola domain .id di Indonesia). Selain menawarkan domain .id secara gratis, pengguna My.id bisa mendapatkan juga fitur blog layaknya Blogger, Wordpress, dan lainnya.

Oleh karena itu, saya membuat konsep untuk konten blog saya terbagi menjadi beberapa blog, diantaranya:
  1. teddtv.xyz (blog yang sedang Anda buka ini), akan lebih difokuskan ke blog mengenai Televisi, Penyiaran, dan Teknologi.
  2. transportasibandung.blogspot.co.id, akan lebih difokuskan ke blog mengenai Transportasi di Kota Bandung.
  3. teddytv.my.id, akan lebih difokuskan ke blog pribadi saya berupa opini pribadi dan sudut pandang yang ingin saya bagikan kepada Pembaca.
  4. Tehnik Teddy (masih perencanaan, belum ada alamat), blog yang berisi materi kuliah saya selama di Polman Bandung dan juga materi kejuruan saat saya SMK. Fokusnya akan lebih ke Mekatronika dan Teknik Komputer Jaringan.
Sebenarnya, saya sendiri kurang yakin dengan update blog Transportasi Bandung dan Tehnik Teddy, karena saya sebentar lagi akan bekerja di Jakarta dan bisa saja waktu luangnya sedikit. Kemungkinan besar, saya akan merekrut orang yang berdomisili di Bandung untuk melakukan update blog saya. Namun saya kembali lagi ke tujuan pembuatan blog ini, yaitu untuk berbagi ke semua orang, seperti slogan TeddyTV dulu, Inspirasi Semua Orang.

Oh iya, kenapa tidak tertarik untuk mengelola website? Kan satu website bisa untuk menampung beberapa bahasan?
Bisa saja saya berencana untuk mengembangkan sebuah website yang multi konten, sehingga saya tidak perlu repot-repot untuk menulis di beberapa blog. Tapi ada satu alasan mengapa saya belum bisa mengembangkan website tersebut, yaitu masalah keuangan. Gini deh, Anda harus membayar server (dan domain) tiap tahun untuk memastikan website Anda tetap bisa diakses. Tentu saja, fasilitas yang diberikan cukup lengkap. Sedangkan, untuk membayar domain .xyz yang saya pakai untuk blog TeddyTV ini saja, saya perlu membayarnya pakai uang pribadi (yang saya kumpulkan dari sisa ongkos selama kuliah). Jadi, saya masih lebih ingin untuk mengembangkan blog gratisan, khususnya blog yang menggunakan CMS Blogger.

Blogger sudah saya percaya selama 7 tahun kiprah saya dalam dunia blogging sebagai platfotm yang gratis namun menawarkan fitur yang cukup lengkap, khususnya customize template dan statistik pengunjung. Kedua fitur tersebut adalah fitur yang tidak bisa saya dapatkan jika menggunakan Wordpress dan Joomla. Yah, walaupun sebenarnya My.id menggunakan CMS Wordpress. Itu kenapa, saya jadikan blog berbasis my.id sebagai blog pribadi saja.

Yah, memang ada harga ada fasilitas. Saya mau tak mau harus menulis di banyak blog untuk bahasan yang berbeda-beda. Namun, saya mengambil nilai positif dari hal tersebut, yaitu saya dapat mengembangkan blog saya untuk monetisasi. Mungkin saya juga mempertimbangkan untuk membeli domain baru untuk blog saya yang lain. Namun saya belum berencana sampai sana.

Oh iya, selain itu, saya juga akan mulai merambah ke media sosial untuk integrasi semua konten yang ada di TeddyTV. Nantikan kejutan dari TeddyTV yahh.

Semoga Pembaca semua dapat mengerti konsep baru TeddyTV ini. Berbagilah hal positif kepada semua orang, agar manfaat positifnya bisa dirasakan juga oleh semua orang (:

TeddyTV, AKTIF, KRITIS, MENGINSPIRASI
Perubahan akan selalu ada. Baik itu perubahan baik, ataupun perubahan buruk. Tinggal bagaimana caranya kita memaknai perubahan tersebut.

Bicara soal perubahan, blog saya ini akan melakukan sebuah perubahan. Entah benar-benar perubahan atau tidak, yang jelas ini merupakan salah satu langkah besar saya di dunia blogging selama 7 tahun ini. Oh iya, saya juga akan berbagi ilmu yang selama ini saya punya mengenai Mekatronika, Jurnalistik, Fotografi, dan Videografi, di blog baru saya, teddytv.my.id.

Nantikan perubahan blog ini pada tanggal 1 Agustus 2017 (;

 




Beberapa hari lalu, saya mendapatkan informasi bahwa Pemerintah Kota Bandung sedang melakukan uji coba pelaksanaan Rental Sepeda "Boseh" di Kota Bandung. Masyarakat Kota Bandung bisa mencoba layanan transportasi ini secara gratis di beberapa bike station yang telah dibangun di Kota Bandung. Saya pun tertarik untuk mencobanya.

Oh iya, Rental Sepeda Boseh itu apa? Berdasarkan berita yang saya kutip dari Tribun Jabar, rental sepeda ini adalah fasilitas transportasi jarak dekat yang disediakan oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung. Untuk menggunakan fasilitas ini, masyarakat cukup mendaftarkan diri di booth registrasi yang tersedia di Taman Lansia dan Taman Cibeunying (sampai tulisan ini diterbitkan, booth registrasi baru ada di kedua taman itu). Masyarakat cukup siapkan E-KTP atau Surat Keterangan bagi yang E-KTPnya belum keluar blangkonya (saya termasuk dalam golongan ini hiks). Baik, mari kita mulai review saya ini yah..

Beberapa pengunjung sedang mendaftarkan diri untuk menggunakan fasilitas rental sepeda "Boseh" (Dok. Pribadi)
Saya mencoba fasilitas ini hari Senin lalu (10/7/2017), dimana saat itu saya sudah selesai menjalani sidang kelulusan diploma saya. Saya mendaftar di booth registrasi yang ada di Taman Lansia, tepatnya di sisi yang seberangnya Taman Pustaka Bunga. Awalnya saya dimintai E-KTP, tapi karena E-KTP saya belum keluar (padahal saya udah ngajuin sejak September tahun lalu), jadinya saya menggunakan fotocopy surat keterangan yang dikeluarkan oleh kecamatan. Teteh (bahasa Sundanya dari Mbak) penjaga booth-nya lalu mengambil kartu yang disimpan di atas permukaan sebuah alat yang terhubung ke laptop. Dugaan saya, alat itu adalah alat pembaca kartu NFC. Benar saja, teteh tersebut memasukkan data yang tertera pada surat keterangan & meminta nomor handphone saya. Kemudian, saya diminta untuk memasukkan PIN kartu dan mengambil foto diri saya. Pengambilan foto dilakukan langsung di booth tersebut menggunakan webcam laptop. Awalnya, saya ga menduga bahwa bakal ada pengambilan foto, apalagi menggunakan webcam yang kita semua tau resolusinya kurang coy untuk dijadikan pas foto. Untungnya, cahaya matahari saat itu sedang cerah, sehingga hasil fotonya pun cukup bagus.

Akhirnya, kartu peminjaman sepeda saya telah diaktifkan. Dari brosur yang saya baca di booth registrasi, dijelaskan bahwa kartu ini bakal bisa digunakan sebagai alat pembayaran transportasi MRT dan cable car yang rencananya akan dibangun oleh Pemerintah Kota Bandung. Hmmm, satu kartu untuk semua moda transportasi umum. Menarik juga. Kartunya seperti yang terlihat di gambar di samping.





Saya pun lalu mendatangi bike station yang tak jauh dari booth registrasi. Bike station tersebut terlihat sederhana sekali, karena didirikan tanpa atap & hanya berupa mesin transaksi dan beberapa unit sepeda yang dipasangkan pada sebuah alat yang terhubung ke semacam pipa. Oh iya, karena semua sistemnya bersifat otomatis, maka tak ada booth khusus untuk penjaga sepeda. Berbeda dengan bike station yang dulu pernah disediakan oleh Pemerintah Kota Bandung dengan kerjasama ikatan alumni salah satu perguruan tinggi di Bandung, yang memiliki atap dan booth penjaga sepeda. Sepertinya untuk kali ini, Pemerintah mempercayai masrayakat Kota Bandung agar bisa menjaga fasilitas sepedanya dengan baik.

Saat saya mendatangi booth tersebut, ternyata ada akang yang memandu saya dalam menggunakan mesin transaksi elektronik di station tersebut. Padahal, di mesinnya sendiri sudah tertempel panduan untuk meminjam dan mengembalikan sepeda. Keberadaan akang pemandu tersebut terpakai saat saya mencoba pertama kali transaksi peminjaman sepeda, dimana mesin tersebut mendeteksi bahwa tidak ada sepeda yang bisa dipinjam. Lah, itu ada 2 sepeda nangkring kok di stationnya? Si akang pemandu pun membantu saya agar transaksi bisa kembali dilakukan. Alhamdulillah, pada transaksi kedua, saya berhasil meminjam sepeda dari station ini.

Oh iya, untuk meminjam sepeda, pengguna cukup menempelkan kartu NFC yang telah didapatkan di NFC reader yang ada di sebelah tombol numerik. Saya harus terus menempelkan kartu tersebut agar transaksi bisa dilakukan dengan baik. Saat kartu NFC terdeteksi, mesin akan meminta PIN kartu. Yah, jadi kayak transaksi di ATM. Lalu, saya disuguhkan pada 2 pilihan utama, pinjam atau ngembaliin sepeda. Setelah saya memilih untuk meminjam sepeda, saya ditanya nomor sepeda yang akan dipinjam. Nomor sepeda ini diambil berdasarkan nomor terminal pengunci sepeda yang ada di station (kalo Anda ga tau yang mana, bentuk alatnya kayak kaleng kue versi kecil, alias tabung, berwarna biru dan letaknya terpasang dengan pipa di station tersebut. Di atas tabung tersebut ada nomor terminalnya). Jika sudah, saya dipersilahkan untuk mengambil sepeda di nomor terminal yang sudah dimasukkan.

Untuk melepaskan sepeda dari terminal pengunci, saya cukup menekan tombol di terminal sampai ada suara klik (Menurut panduannya, cek lampu pada terminal. Tapi saya ga liat lampunya dimana). Kalo udah ada suara klik, artinya sepeda sudah bisa dikeluarkan.

Bisa dilihat dari gambar sepeda di awal post ini, sepeda yang digunakan untuk moda transportasi jarak dekat ini bisa digolongkan sebagai city bike, walaupun ukurannya sedang (CMIIW). Ada pengatur gigi untuk ban belakang dan bel yang dibunyikannya dengan cara diputar engselnya (sama kayak kalo mau ngatur gigi ban) pada stang sepedanya. Sepeda ini berwarna identik biru, menyesuaikan dengan warna pada bike stationnya yang juga identik dengan biru, warna yang identik dengan Bandung. Penyebab pastinya mah saya tidak usah bahas lah yah (;

Untuk mencoba fasilitas ini, saya mengambil rute Taman Lansia - Taman Cibeunying - Jalan Riau - Taman Pramuka - Jalan Taman Pramuka - Jalan Supratman - Taman Lansia. Alasannya karena di rute ini tidak terdapat kepadatan lalu lintas yang cukup mengganggu. Meskipun di Jalan Supratman kendaraan bermotor ramai berlalu lalang, tapi tidak sampai mengganggu saya dalam bersepeda. Suasana lalu lintas yang tidak terlalu ramai saat itu mendukung lancarnya uji coba saya terhadap fasilitas ini.

Ketika saya mengganti gigi ban belakang ke gigi rendah dan tinggi, terasa sekali efek perpindahan gigi tersebut. Maklum, karena sepeda baru. Saya agak kaget dengan standar sepeda tersebut yang membuat sepeda ini dapat diparkirkan secara tegak (mungkin efek saya baru tahu, ah dasar ndeso hehehe)

Setelah satu jam menggunakan sepeda ini, saya kembali ke bike station di Taman Lansia. Sebenarnya, pengguna fasilitas ini bisa mengembalikan sepeda ini di bike station di mana saja. Jadi, kalo saya meminjam sepeda di Taman Lansia, saya bisa saja mengembalikan sepeda tersebut di Taman Pramuka. Tetapi, saat itu saya lebih memilih untuk mengembalikan sepeda tersebut di Taman Lansia. Selain karena belum tau lokasi bike station lainnya, juga karena saat saya mengembalikan sepeda, sudah mengantri beberapa orang yang ingin mencoba fasilitas rental sepeda ini. Hmmm kebetulan sekali saat saya akan mengembalikan sepeda ini.

Untuk mengembalikan sepeda ke bike station, saya cukup memasangkan kembali ujung sepeda ini ke terminal pengunci yang ada di station. Jika sudah yakin sepeda telah terkunci, saya kembali melakukan transaksi di mesin transaksi elektronik untuk mengkonfirmasi pengembalian sepeda. Pastinya, saya harus menempelkan kartu NFC saya ke NFC reader selama transaksi. Setelah mengkonfirmasi pengembalian sepeda, mesin menunjukkan biaya yang harus dikeluarkan. Karena masih dalam tahap uji coba, saya tidak dipungut biaya dari peminjaman sepeda yang saya lakukan tersebut. Kedepannya, pengguna harus melakukan isi ulang agar dapat menikmati fasilitas Boseh ini.

Sebenarnya kalo mau dirangkum, pengalaman menggunakan sepeda dari rental sepeda "Boseh" ini sama dengan pengalaman menggunakan sepeda pribadi. Mungkin, akan terasa perbedaannya karena sepeda ini cuma bisa dipinjam dari jam 9.00 - 16.00 WIB (entah kenapa belum bisa 24 jam). Ketika saya tanya akang pemandu di bike station, dia bilang bahwa sepeda ini bisa digunakan di seluruh daerah di Kota Bandung asalkan dikembalikan sebelum waktu tutup. Lalu, saat saya tanya sampe kapan fasilitas ini tersedia secara gratis, teteh penjaga booth bilang kurang tau. Namun, dari berita lainnya di Tribun Jabar, fasilitas ini tersedia gratis selama seminggu semenjak peluncuran. Selain itu, dari pamflet yang saya baca di booth, tertulis bahwa pada tahun 2017 ini, Dishub menyediakan 100-an (CMIIW) unit sepeda di beberapa station terpilih. Saya bisa maklumi hal tersebut, karena fasilitas ini masih bersifat ujicoba.

Mungkin, karena alasan yang sama pula, beberapa bike station yang saya temui masih belum dibuka. Salah satunya di Jalan Dipatiukur, tepatnya di depan Taman Gesit. Hanya bike station di sekitar kawasan Taman Lansia saja yang sudah dibuka untuk umum, termasuk bike station di Taman Cibeunying & Taman Pramuka. Saya baru paham, mungkin alasan pelaksanaan uji coba rental sepeda ini baru dilakukan di area ini karena area di sekitar taman ini ideal untuk ngaboseh (bersepeda) jarak dekat. Kepadatan lalu lintas yang tidak terlalu ramai, ditambah banyaknya taman di sekitar kawasan tersebut, memang membuat suasana bersepeda menjadi nyaman.

Kurangnya sosialisasi terlihat dari pelaksanaan uji coba ini. Saat saya mengambil gambar bike station di Taman Pramuka, ada beberapa orang penyapu jalanan dari PD Kebersihan yang bertanya ke saya mengenai bagaimana cara mendaftar untuk menggunakan rental sepeda Boseh. Mereka bertanya demikian karena mereka juga ditanyai oleh beberapa orang yang ingin mencoba fasilitas ini. Saya akui, saat melihat bike station di Taman Pramuka, tidak diumumkan bagaimana cara mendapatkan kartu NFC agar bisa mencoba rental sepeda.

Ada satu pertanyaan penting yang sebenarnya ingin saya cari tau, bagaimana pelaksanaan perawatan terhadap armada sepeda ini? Melihat dari sederhananya bike station yang dibangun tanpa atap, membuat saya khawatir akan ketahanannya terhadap cuaca. Saya teringat dengan pengalaman dari pembangunan bike station yang dulu dilakukan oleh Pemkot, dimana sepedanya dibiarkan berkarat saat kelanjutan program bike sharing tersebut tidak jelas, membuat saya khawatir kejadian yang sama akan terulang jika program ini ternyata kurang berhasil. Semoga saja, Pemerintah Kota Bandung memikirkan juga aspek perawatan dari setiap armada sepeda "Boseh" ini.

Selain itu, bagaimana jika saat salah seorang pengguna menggunakan sepeda ini, tiba-tiba pengguna mengalami kecelakaan? Apakah ada asuransi yang dapat menutupi biaya pengobatannya? Mungkin saat Dishub mulai menerapkan biaya sewa pada rental sepeda ini, juga mencakup biaya asuransi kecelakaan. Semoga saja benar demikian.

Secara keseluruhan, saya melihat fasilitas rental sepeda "Boseh" ini merupakan pengembangan dari fasilitas bike sharing yang dulu pernah dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung. Boseh ini bisa dibilang versi 2.0-nya. Fasilitas ini juga bisa menjadi langkah awal Pemerintah Kota Bandung dalam menyukseskan integrasi moda transportasi umum yang akan segera dibangun. Buktinya ada pada kartu NFC yang saya gunakan untuk transaksi peminjaman sepeda ini. Semoga Pemerintah Kota Bandung benar-benar bisa menjalankan program bike sharing ini dengan baik.
Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya saya membuat artikel yang berhubungan dengan kuliner. Inspirasi artikel ini berawal dari teman kampus saya yang lagi “ngidam” Aice, sebuah merek es krim yang lagi ramai dibicarakan di media sosial. Sampai, dia bela-belain untuk mencari warung atau toko yang menjual es krim ini di sekitar kampus. Walaupun hasilnya nihil. Cara pemasaran Aice yang tidak seperti merek es krim yang biasa kita temui di minimarket dan mayoritas toko kelontong, membuat pencarian toko yang menjual es krim Aice ini menjadi sebuah cerita yang menarik. Jika sudah dapat, rasanya akan sama seperti saat kita berhasil memperebutkan kue wafer coklat dalam kaleng Khong Guan yang hanya ada 1 buah dalam 1 kalengnya. Yup, rasa bangga karena berhasil menemukan sesuatu yang langka.
Singkat cerita, akhirnya teman saya ini menemukan toko yang menjual es krim Aice. Tapi bukan di kawasan sekitar kampus, melainkan di kampung halamannya. Beruntung, karena rumahnya di kampung halaman dekat dengan toko tersebut. Alhasil, sekarang dia ga usah pergi berkeliling lagi hanya untuk mencari es krim Aice ini.
Lain cerita, ketika saya sedang berkeliling kawasan Teras Cihampelas saat H-1 peresmiannya. Setelah puas menikmati arsitektur “teras” ini, saya pun turun melewati tangga yang posisinya dekat dengan Ciwalk (Cihampelas Walk). Baru saja melangkah beberapa langkah dari tangga, mata saya terfokus pada sebuah freezer yang memajang logo Aice di depan sebuah toko kaos. Iya, Anda tidak salah baca, toko kaos. Ga salah nih toko kaos jualan es krim?
Lalu, timbul sebuah pertanyaan besar dalam diri saya. “Apa sih yang buat Aice ini hits banget?” Mungkin pertanyaan yang sama pun terlontar dalam pikiran Anda saat mendengar kata “Aice”. Untuk menjawab rasa penasaran saya tersebut, saya pun bergegas menghampiri toko kaos tersebut. Yang pasti saya tidak membeli kaos di toko tersebut, walaupun toko itu menjual kaos. Ketika saya menghampiri freezer Aice, penjaga toko pun mendatangi saya dan mulai menawarkan es krim Aice yang mungkin baru saja dijualnya beberapa bulan yang lalu. Dia seakan tahu bahwa es krim ini sedang banyak yang mencari, sampai dia bela-belain menunda “main HP”-nya untuk menawarkan es krim.
Sayang, ketika saya melihat freezernya, tidak ada es krim dengan rasa yang jadi bahan obrolan, yaitu rasa jagung dan semangka. Mata saya tertuju pada 2 rasa es krim yang lain, es krim rasa susu melon dan rasa coklat vanilla (CMIIW, yang jelas ada tulisan “Bingo” di situ.). Hal menarik dari es krim ini adalah harganya. Untuk 2 es krim yang menjadi pilihan saya di awal, sama-sama memiliki harga Rp 2.500,- / buah. Weww, harganya bisa setengah harga es krim yang biasa di minimarket! Mendengar harganya yang cukup murah, saya sempat terpikir untuk membeli dua-duanya. Namun sayang, uang di saku saya tinggal Rp 3.000,- ditambah ongkos pulang. Akhirnya, si Bingo harus mengalah pada susu melon. Saya pun membayar es krim yang saya pilih dan segera mencari tempat duduk agar saya bisa menikmati es krim ini
Sekilas, tidak ada yang spesial dengan es krim tersebut. Di luar ada lapisan warna hijau dan di dalamnya ada lapisan warna hijau muda (sebenarnya agak putih sih). Mungkin saja itu untuk membedakan rasa susu dan melonnya. Ketika saya menikmatinya, entah mengapa saya malah teringat dengan es potong yang biasa dijual menggunakan gerobak. Mungkin perasaan itu karena saya memilih rasa es krim yang juga tersedia di gerobak es potong. Teksturnya lembut dan rasa susunya terasa. Mengingat harganya yang hanya Rp 2.500,-, bagi saya es krim ini memiliki kualitas yang sebanding dengan es krim minimarket, bahkan bisa lebih dari itu. Karena sering kali saya menemukan es krim yang biasa dijual di minimarket rasa penambahnya jauh lebih terasa ketimbang rasa susu sebagai bahan utama es krim.
Namun, pertanyaan selanjutnya muncul, kenapa es krim ini bisa murah? Dan mengapa hanya dijual di tempat tertentu saja dan bisa dijual di tempat yang tidak biasa, seperti toko kaos tempat saya membeli barusan? Setelah es krim yang saya beli sudah habis, saya melihat bungkus dari es krim tersebut. Saya baru tahu bahwa ternyata es krim ini adalah impor dari Tiongkok dan dipasarkan untuk Indonesia dan Vietnam (Saya baru saja mendapat info dari teman Facebook saya bahwa tidak semua produk Aice adalah produk impor. Dia mengatakan bahwa es krim Aice rasa nanas, yang juga ada di freezer toko kaos tersebut, ternyata dibuat di Bekasi). Saya tidak terlalu mengerti urusan ekonomi. Faktor yang membuat harga Aice ini murah mungkin juga berlaku pada produk impor dari Negeri Tirai Bambu lainnya.
Mengenai cara pemasarannya, yang saya baca dari website distributor Aice di Indonesia, mereka menerapkan sistem yang hampir sama dengan produsen es krim lainnya. Orang yang mau menjadi agen diberikan fasilitas berupa freezer (entah diberikan secara gratis atau tidak). Tetapi, yang membuat saya penasaran, tertulis pada salah satu blog reseller Aice, harga es krim yang ada di pasaran ini adalah harga promosi. Hmm, hal ini mengingatkan saya dengan layanan transportasi online, seperti GO-JEK, Grab, dll, yang mengawali langkah mereka di Bandung dengan harga promo. Dugaan saya, sepertinya Aice ini menyasar konsumen kelas bawah hingga menengah ke bawah karena tempat penjualannya lebih banyak ditemui di warung-warung ketimbang di minimarket.
Populernya Aice saat ini mengingatkan saya dengan merek es krim yang pernah saya nikmati. Walls, Campina, dan Indoeskrim, ketiga merek tersebut bisa dibilang sering kita jumpai di pasaran dan juga mewarnai masa kecil saya. Walaupun, Indoeskrim akhir-akhir ini sedang kurang pemasarannya. Padahal, ketika saya SD, es krim ini mudah ditemui dimana-mana. Dulu, saya pernah ingin sekali menikmati es krim Monas yang iklannya pernah tayang di TV. Tau kan es krim Monas? Itu loh, es krim yang dibentuk mirip monas dengan cone luar yang terbuat dari plastik dan entah apakah ada cone yang renyah di dalam cone plastik tersebut. Yah, namanya juga keinginan, jadi masih mengira-ngira hehehe. Harganya yang jauh lebih mahal dari es krim Indoeskrim lainnya, membuat saya belum menikmati es krim ini dari dulu hingga sekarang. Sialnya, ternyata setelah merek Meiji dilepas dan hanya meninggalkan nama merek Indoeskrim, namanya diubah menjadi Rocks. Apakah bentuk “Monas” yang identik itu sudah berubah seiring perubahan namanya? Saya belum tahu. Lebih sialnya lagi, sekarang es krim tersebut seakan menghilang dan pemasarannya tidak semasif ketika saya kecil dulu. Beruntung, es krim ini katanya masih bisa ditemui di ritel modern dan toserba. Saat saya membuat artikel ini, keinginan saya tersebut muncul kembali. Semoga impian saya sejak kecil tersebut bisa terkabul yah hehe.
Selain kenangan yang sudah saya tulis di atas, saya juga pernah punya pengalaman dengan es krim Conello-nya Walls (sebelum namanya jadi Cornetto), dimana ketika gigi saya masih bermasalah, saya sering dibelikan es krim ini sepulang dari dokter gigi sebagai hadiah atas keberanian saya saat menghadapi alat-alat dokter gigi yang “menyeramkan” itu (Namanya juga anak kecil bro hehe). Bisa dibilang, kenangan masa kecil saya terhadap es krim mungkin hanya sedikit. Karena setelah saya beranjak SMP, SMK, sampai kuliah, saya sudah jarang menikmati es krim. Pernah, walaupun frekuensinya bisa dihitung dengan jari.
Saya baru tersadar, ternyata pasar es krim di Indonesia sekarang ini sudah dikuasai oleh 2 merek, yaitu Walls dan Campina. Freezer mereka selalu mejeng berdampingan di minimarket yang juga sedang menjamur. Kedua produsen es krim tersebut menggunakan cara pemasaran yang sama untuk menggaet konsumen. Perbedaannya hanya terlihat dari masif atau tidaknya promosi mereka di pasaran. Selain itu, kedua merek ini mengincar pasar konsumen menengah hingga konsumen kelas atas.
Sepertinya, Walls memposisikan diri sebagai dessert yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke atas hingga ke atas. Iklan-iklan TV-nya kadang menunjukkan sisi “premium-nya” es krim ini, dengan menjadikan artis nasional dan internasional menjadi bintang iklannya. Dukungan Unilever sebagai perusahaan multinasional mungkin membuat citra Walls sebagai es krim “premium” ini menjadi semakin kentara.
Eitss ingat, Walls juga sering menjadikan anak-anak sebagai target pemasaran dengan icon Paddle Pop-nya. Harga es krim di bawah naungan “Macan” ini ada yang lebih murah daripada es krim Walls lainnya. Ditambah, Walls sering mengeluarkan hal-hal yang bersifat “collectiable” dengan menggunakan icon Paddle Pop ini agar pelanggan setianya selalu membeli es krim ini, seperti koleksi sticker tokoh-tokoh Paddle Pop dalam sebuah petualangan. Setiap ada petualangan baru, Walls mengeluarkan varian rasa baru dalam lini ikon Paddle Pop. Ahhh, saya bersyukur es krim rasa coklat dan corak pelangi khas Paddle Pop masih ada sampai sekarang, meskipun petualangan Paddle Pop silih berganti. Dunia anak memang selalu berkaitan dengan sosok pahlawan pembela kebenaran dan sosok Paddle Pop merupakan sosok yang tepat untuk mewakili target pasar Walls terhadap anak-anak, bahkan hingga saat ini.
Cara pemasaran yang sama pernah juga dilakukan oleh Campina. Masih ingat icon Blue Jack dan duhh siapa sih uth icon ceweknya? Sayang, kedua icon endorser es krim Campina tersebut kurang mampu untuk menangkis dahsyatnya kisah petualangan Paddle Pop. Dan ketika iklan Campina tampil di TV, rasanya baru sekali mereka memakai artis nasional untuk mempromosikan produknya, yaitu Nikita Willy, yang mempromosikan es krim Concerto, saingannya Cornetto Walls. Meskipun promonya tidak terlalu masif, setidaknya wajah pemeran sinetron Putri yang Tertukar RCTI tersebut masih bisa kita temui di freezer-freezer Campina di minimarket. Ditambah, citra Campina masih baik karena tidak pernah membuat event yang sampai membuat Bu Risma, Walikota Surabaya, marah besar ketika taman kebanggaan Surabaya rusak akibat pelaksanaan event tersebut (Eh, di Bandung juga demikian deng).
Di tengah persaingan Walls dan Campina, ternyata Indoeskrim dan Diamond tetap bertahan walaupun sekarang ini sedang “merendah”. Merek-merek baru yang saya sendiri baru dengar pun juga bermunculan, seperti Glico Wings, Baronet, dan Aice, merek yang saya bicarakan di awal artikel ini. Merek-merek baru ini seakan memposisikan diri sebagai es krim alternatif untuk melawan dominasi merek Walls dan Campina di pasar es krim Indonesia, bersama produk es krim tradisional yang dijual menggunakan gerobak keliling dan produk es krim home made lainnya.
Eitss, jangan lupakan juga peran es krim keluaran restoran fast food dalam pasar es krim Indonesia, meskipun es krim keluaran McDonalds lebih mendominasi ketimbang restoran fast food lainnya. Siapa yang tidak tahu varian Macha Top yang pernah hits beberapa waktu lalu? Es krim keluaran restoran fast food bisa bersaing dengan kedua merek mayoritas karena es krim ini menyentuh konsumen yang ingin menikmati es krim di luar restoran, dan juga di dalam restoran, hal yang tidak bisa dilawan oleh merek es krim manapun karena kebijakan restoran yang tidak memperbolehkan pengunjung membawa makanan dan minuman dari luar restoran.
Jadi, apa yang bisa kita ambil dari artikel ini? Intinya adalah sekarang ini pasar es krim di Indonesia didominasi oleh 2 merek terkemuka. Dan beberapa merek dan produk es krim alternatif bermunculan untuk mengambil pangsa konsumen di bidang es krim, termasuk restoran fast food. Semua merek dan produk yang bersaing tersebut mempunyai ciri khasnya masing-masing. Kita sebagai konsumen lah yang menentukan mana es krim yang ciri khas-nya selalu diingat. Tetapi, tentu saja konsumen akan lebih mudah untuk mengingat ciri khas es krim jika “dibumbui” dengan kenangan indah, seperti kenangan masa kecil atau kenangan bersama mantan pacar *nah kan keceplosan hehe* (;
Bandung, 3 Februari 2017

#WaxhausLovesMom

WaxhausLovesMom2016

Hi Besties! Sebentar lagi ada hari special untuk orang ter-spesial juga nihh! Yapp! Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2016 nanti. Kali ini Waxine mau berbagi hadiah yang sangat menarik untukmu dan untuk ibumu yayy! Yaitu paket special dari @kanebo_id '&' Waxhaus lhoo!

WaxhausLovesMom2016_kanebo

Yuk langsung aja ikutan quiznya tanggal 16 – 22 desember 2016 nanti dengan posting foto ibumu waktu masih muda dan ceritakan moment kalian yang paling berkesan dengan follow @kanebo_id '&' tag @waxhaus_id (instagram) atau @waxhaus (twitter). Jangan lupa sertakan hashtag #WaxhausLovesMom & #kaneboindonesia yaa! Goodluck Besties!

Ilustrasi bus (Sumber foto: galeribusindonesia.com)

21 Desember 2016, bisa dibilang menjadi tanggal teraneh bagi para insan publik dunia. Gimana ga aneh coba? Setiap mereka membuat pos di media sosial, mayoritas netizen mengomentari pos mereka dengan 3 kata yang terus menerus dipakai secara terstruktur, terencana, dan masif (ga terencana sih sebenernya). 3 kata yang bahkan ketiganya tidak tertulis dalam kamus Oxford sekalipun. 3 kata yang cukup membuat heran DJ (disk jookey) dunia, artis internasional, klub-klub sepakbola, bahkan pengusaha besar yang baru saja terpilih menjadi pupuhu (Sunda: ketua atau pemimpin) di negeri Paman Sam. 3 kata tersebut adalah “Om Telolet Om”

Jika ditelusuri dari sejarahnya, 3 kata ini berawal dari kebiasaan anak-anak di jalur Pantura meminta kepada supir bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) yang melewati jalan tersebut untuk membunyikan klakson di busnya yang memiliki irama yang unik. Anak-anak tersebut menerjemahkan bunyi unik tersebut menjadi sebuah kata benda baru, yang bahkan belum masuk dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Telolet. Sangking niatnya, mereka sampai membuat tulisan di papan yang diberi pegangan atau di karton, yang bertuliskan “Om Telolet Om”. Dimana nantinya saat “telolet” tersebut dibunyikan, anak-anak tersebut merekamnya menggunakan handphone mereka dan selanjutnya dibagikan melalui media sosial. 

Sebenarnya hal yang sama juga dilakukan oleh orang-orang yang bergabung dalam komunitas pencinta bus, atau istilah kerennya “Busmania”. Mereka sering memotret bus-bus yang desain eksteriornya menarik. Bahkan, ada yang sampai memotret interior dari bus tersebut. Yah, mirip-mirip sih dengan yang dilakukan oleh pencinta kereta api, atau istilah kerennya “Railfans”. Bedanya, kalo Railfans kadang sering diajak oleh penyedia jasa kereta api resminya (baca: PT KAI) untuk membantu dalam pelayanan jasa transportasi ini ketika jumlah penumpang sedang mengalami kenaikan, sedangkan Busmania sering mendapat “imbalan” (atau apa yah lebih tepatnya, mungkin Anda bisa memberi saran melalui fitur komentar di bawah) atas jasanya mempromosikan armada bus yang dikelola oleh PO dengan membunyikan klakson “telolet” tersebut. Dimana “telolet” tersebut direkam oleh Busmania ini dan selanjutnya dibagikan di forum mereka di media sosial yang kadang juga dibagikan ke netizen lainnya. Hmmm saya jadi kepikiran, apakah yang dilakukan oleh kedua pencinta transportasi publik ini adalah promosi terselubung? Bagi saya sih tidak, karena itu bisa menjadi promosi ga langsung yang berimbas juga pada jumlah pengguna transportasi publik tersebut. Perusahan penyedia transportasi senang, pencintanya pun ikut senang. Win-win solution, right?

Udah ah, saya ga bakal banyak bahas sejarah “telolet” di pos ini. Takutnya saya malah gagal move on dari mantan saya (apa hubungannya coba?). Di zaman serba maju ini, Anda bisa menanyakan soal sejarah telolet ini kepada Mbah Google. Saya aja sebelum buat pos ini, bertanya dulu kok pada beliau. Tentu saja dengan memberi pengorbanan berupa kuota internet sebesar puluhan megabyte. Sekarang kita mulai sedikit serius. 3 kata viral tersebut jika diubah ke dalam bentuk kalimat yang baik dan benar menurut buku pelajaran Bahasa Indonesia kelas 2 SD, akan menjadi seperti ini: “Om, kami menginginkan telolet itu dibunyikan!”, atau yang lebih baiknya lagi “Om, kami menginginkan klakson bus yang Om kemudikan untuk dibunyikan dengan suara unik!” Panjang banget kan? Jadi, memang lebih baik untuk menyingkat kalimat yang panjangnya sudah bisa mengalahkan nama seorang pemuda asal Afrika yang terkenal itu dengan 3 kata sakti mandraguna yang mungkin bisa mengalahkan kapak 212-nya Wiro Sableng.

Berhubungan dengan sejarah yang saya tulis di awal, video-video yang dibagikan oleh “kolektor” telolet tersebut semakin lama semakin diminati oleh netizen. Tau sendiri, apapun yang menarik perhatian bagi netizen kita, bakal langsung dibagikan ke netizen lainnya tanpa pikir panjang, termasuk berita hoax. Sama seperti hoax, dimana kecepatan penyebarannya dikabarkan bisa mengalahkan kecepatan cahaya, video-video “telolet” tersebut menjadi viral kemana-mana. Dan netizen pun mulai membuat semacam parodi dari video-video tersebut dengan menjadikannya sebagai bahan eksis di dunia maya, dengan cara mengomentari pos-pos media sosial para insan publik dengan 3 kata sakti, “Om Telolet Om”. Itu kenapa saya tidak yakin bahwa spamming yang dilakukan oleh netizen menggunakan 3 kata sakti tersebut ga terlalu terencana, karena memang sifat dari media sosial itu sendiri yang bisa membuat kita menyimpulkan bahwa “apapun bisa terjadi di sana”.

Posting Mashmello yang captionnya ada "Om Telolet Om" (Sumber: Google Gambar)
Dalam menyikapi fenomena “Om Telolet Om” ini, insan publik dunia dan Indonesia yang tertimpa spam “telolet” tersebut melakukannya dengan berbagai cara. DJ Marsmellow dengan gambar dirinya sedang duduk di kursi supir bus dengan caption 3 kata sakti itu; Firebeatz yang membuat video kompilasi dari video-video telolet di internet, yang tentu saja dikemas dalam bentuk EDM (Electronic Digital Music); klub-klub sepakbola Eropa yang membagikan video armada bus mereka membunyikan klakson yang sebenernya bukan klakson “telolet”; Kang Emil dengan foto di akun Instagramnya yang mengandung caption anti “telolet”-nya (Sayangnya, captionnya ini kurang ampuh hehe); hingga vokalis Superman is Dead sekaligus aktivis yang mengkritik viralnya fenomena telolet ini di tengah masih adanya masalah yang lebih penting untuk diperjuangkan kebenarannya. Tunggu, kok ada yang mengkritik? Mari kita bahas di paragraf selanjutnya.

Di kalangan netizen, fenomena ini tak semuanya ditanggapi positif. Dari artikel yang saya baca di BBC Indonesia, ternyata ada beberapa netizen di luar Indonesia yang terganggu dengan fenomena ini. Lalu, vokalis Superman is Dead sampai iri akan fenomena telolet yang menjadi viral ketimbang isu reklamasi di Bali yang sedang dia perjuangkan bersama rekan seperjuangan dan beberapa hari terakhir ini upayanya dalam memperjuangkan penyelesaian isu tersebut dibalas oleh beberapa netizen dengan cara “membunyikan” telolet. Di dunia maya pada umumnya, saya menemukan ada beberapa orang yang menganggap bahwa fenomena 3 kata sakti mandraguna ini berkaitan dengan konspirasi yahudi dan hindu.

Dari 3 paragraf sebelum paragraf ini, sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan bahwa salah satu penyebab dari meledaknya fenomena ini karena kebiasaan “asbun” (asal bunyi) netizen kita di media sosial. Asal bunyi yang dilakukan karena keinginan seseorang untuk eksis di dunia maya. Netizen kita menggunakan ketenaran insan publik untuk eksis dengan bermodalkan 3 kata sakti tersebut. Dan ketika semakin banyak orang yang melakukan hal tersebut, kita semua bereuforia. Meskipun sebenarnya, hal yang sama juga mungkin dilakukan oleh netizen di negara lainnya. Cuma sayanya aja yang mainnya kurang jauh hehehe.

Sebenarnya kebiasaan asal bunyi ini juga sering kita temui di jagat maya, bahkan intensitasnya lebih banyak di akhir tahun ini. Asal berpendapat tanpa adanya data dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Asal mengkomentari sesuatu tanpa memerhatikan etika sosial, hingga muncul kata kasar. Beberapa netizen beralasan, bahwa hal yang mereka lakukan itu hanya sekedar iseng belaka atau ada juga yang beralasan kebebasan berpendapat. Jika ditegur, dibilang mengancam kebebasan berpendapat. Duh, come on guys, kebebasan berpendapat itu ga sebebas yang kalian kira. Media sosial merupakan tempat publik yang hadir secara “virtual”. Jadi, kita pun juga harus menggunakan etika dalam ber-media sosial selayaknya ketika kita berada di tempat umum. Semua hal tersebut bisa terjadi akibat kurangnya edukasi penggunaan media sosial di masyarakat kita.

Apa bukti bahwa netizen kita ada yang asbun? Saya mengambil contoh dari kasus desain uang baru negara kita yang “katanya” sama dengan desain uang di negara Tiongkok. Dimana orang yang berpendapat demikian memiliki alasan karena pemilihan warna, tata letak, dan penggambaran dari tokoh pahlawan yang disematkan di uang baru tersebut, sama dengan yang ada di uang negara yang terkenal dengen tembok besarnya ini. Sebuah alasan yang hanya berlandaskan cocoklogi semata. Namun, lihat saja komentar dari netizen lainnya. Ada yang mengomentarinya dengan kata kasar ke etnis tertentu, ke presiden, dikaitkan dengan penjajahan asing, dan lain-lain. Duhhh gustiii ):

Lalu, bagaimana caranya kita dalam menyikapi fenomena “telolet” yang sudah terlanjur populer ini? Saran saya sih, nikmati aja dan biarkan itu menghilang sendiri. Fenomena ini pasti lambat laun akan menghilang dengan sendirinya kok. Siapa yang tak ingat ketika fenomena Keong Racun yang dipopulerkan oleh duet mahasiswi asal Bandung, Sinta dan Jojo? Sekarang apa kabar fenomena internet Indonesia itu sekarang? Cukup dijawab oleh diri sendiri saja.


Salah satu spammer telolet yang dikritik oleh netizen luar Indonesia (Sumber: BBC Indonesia)

Namun yang perlu dicermati, kita juga harus mulai belajar etika dalam menggunakan media sosial. Etika yang ssebenarnya hampir sama dengan etika sosial yang sudah kita pelajari dari masyarakat di dunia nyata. Terdengar sepele sih. Tetapi jika disepelekan oleh banyak orang, maka efeknya akan sangat besar. Liat saja riuhnya media sosial akhir-akhir ini. Saya ga bakal komentarin hal itu, karena kita lagi bahas telolet, bukan bahas yang lain.

Gunakan euforia telolet ini dalam kondisi dan waktu yang tepat. Kembali ke contoh netizen yang mengkritik fenomena ini. Musisi Superman is Dead mengatakan, bahwa ada beberapa netizen yang mengkomentari perjuangannya dalam mengangkat isu reklamasi di Bali melalui media sosial dengan 3 kata sakti tersebut. Kalo saya jadi dia pun, pasti rasanya ga enak banget. Nyesss banget dehh ):

Selain itu, kita harus paham bahwa dunia maya itu bukan hanya milik Indonesia, tapi juga warga dunia. Adanya komentar dari netizen luar Indonesia terhadap spammer telolet di media sosial cukup membuktikan bahwa bereuforia akan sesuatu ada batasnya. Bereuforia di media sosial boleh, tetapi kita juga harus membatasi diri.

Saya tutup pos ini dengan menuliskan sebuah peribahasa. “Cupak sepanjang betung, adat sepanjang jalan,” yang artinya bisa kalian tanyakan pada Mbah Google. Ga perlu lah untuk menanyakan arti dari peribahasa tersebut melalui pesan pribadi saya, baik melalui Path, Pinterest, ataupun Friendster. Bukan tak mau, tetapi saya memang ga punya akun ketiga media sosial tersebut. Oh iya, jika pos ini masih ada kekurangan, saya mohon maaf karena saya juga punya kekurangan dan saya harap Anda memberitahu kekurangan pos ini kepada saya. Kritik dan saran, sangat saya butuhkan dari Anda sebagai pembaca. Udah ahh, saya mau melanjutkan menghibur diri dengan video-video telolet di Youtube. Ommm Telolet Ommm!!! ((=

Tentang Saya

My photo

Hello, saya adalah manusia yang hidupnya biasa aja hehe (;

Total Kunjungan

Arsip Blog

Para Pengunjung