Teropong

Feature

Infografik

Opini

Visual

Bekas menara pengawas Bandara Kemayoran, Jakarta (Sumber: Skycrapercity)
Inilah bandar udara internasional perdana yang resmi dimiliki oleh Pemerintah Indonesia saat baru merdeka. Namun, kini kita mengenalnya sebagai tempat pelaksanaan Jakarta Fair setiap tahun.


"Ada apa sih dengan Draf Permendikti itu, sampe-sampe jadi alasan Zaadit buat jadi "wasit"-nya Jokowi? "


Hai, sudah lama saya tidak membuat artikel di blog pribadi saya ini. Oke, seiring dengan logo baru yang sudah digunakan sejak 9 Agustus 2017 lalu, kini saya akan mengubah konsep blog pribadi saya yang selama ini kurang terurus selama kuliah hehe.

Jadi, blog-blog pribadi saya ini akan terbagi ke beberapa blog yang memiliki bahasan tertentu. Jadi, satu blog untuk satu bahasan. Tujuannya apa? Biar saya bisa mengembangkan konten di tiap blog. Jadi, ga campur-campur kayak sebelumnya. Selain itu, saya juga bisa mengembangkan potensi masing-masing blog saya untuk monetisasi. Dimana, seringkali syaratnya blog tersebut tidak boleh "gado-gado" (banyak konten dengan bahasan yang berbeda-beda)

Selama ini, konten blog TeddyTV lebih ke arah Televisi dan Teknologi. Namun, akhir-akhir ini saya juga menerbitkan konten opini pribadi di blog TeddyTV ini. Untungnya, saya menemukan platform baru bernama My.id, sebuah platform blogging buatan PANDI (pengelola domain .id di Indonesia). Selain menawarkan domain .id secara gratis, pengguna My.id bisa mendapatkan juga fitur blog layaknya Blogger, Wordpress, dan lainnya.

Oleh karena itu, saya membuat konsep untuk konten blog saya terbagi menjadi beberapa blog, diantaranya:
  1. teddtv.xyz (blog yang sedang Anda buka ini), akan lebih difokuskan ke blog mengenai Televisi, Penyiaran, dan Teknologi.
  2. transportasibandung.blogspot.co.id, akan lebih difokuskan ke blog mengenai Transportasi di Kota Bandung.
  3. teddytv.my.id, akan lebih difokuskan ke blog pribadi saya berupa opini pribadi dan sudut pandang yang ingin saya bagikan kepada Pembaca.
  4. Tehnik Teddy (masih perencanaan, belum ada alamat), blog yang berisi materi kuliah saya selama di Polman Bandung dan juga materi kejuruan saat saya SMK. Fokusnya akan lebih ke Mekatronika dan Teknik Komputer Jaringan.
Sebenarnya, saya sendiri kurang yakin dengan update blog Transportasi Bandung dan Tehnik Teddy, karena saya sebentar lagi akan bekerja di Jakarta dan bisa saja waktu luangnya sedikit. Kemungkinan besar, saya akan merekrut orang yang berdomisili di Bandung untuk melakukan update blog saya. Namun saya kembali lagi ke tujuan pembuatan blog ini, yaitu untuk berbagi ke semua orang, seperti slogan TeddyTV dulu, Inspirasi Semua Orang.

Oh iya, kenapa tidak tertarik untuk mengelola website? Kan satu website bisa untuk menampung beberapa bahasan?
Bisa saja saya berencana untuk mengembangkan sebuah website yang multi konten, sehingga saya tidak perlu repot-repot untuk menulis di beberapa blog. Tapi ada satu alasan mengapa saya belum bisa mengembangkan website tersebut, yaitu masalah keuangan. Gini deh, Anda harus membayar server (dan domain) tiap tahun untuk memastikan website Anda tetap bisa diakses. Tentu saja, fasilitas yang diberikan cukup lengkap. Sedangkan, untuk membayar domain .xyz yang saya pakai untuk blog TeddyTV ini saja, saya perlu membayarnya pakai uang pribadi (yang saya kumpulkan dari sisa ongkos selama kuliah). Jadi, saya masih lebih ingin untuk mengembangkan blog gratisan, khususnya blog yang menggunakan CMS Blogger.

Blogger sudah saya percaya selama 7 tahun kiprah saya dalam dunia blogging sebagai platfotm yang gratis namun menawarkan fitur yang cukup lengkap, khususnya customize template dan statistik pengunjung. Kedua fitur tersebut adalah fitur yang tidak bisa saya dapatkan jika menggunakan Wordpress dan Joomla. Yah, walaupun sebenarnya My.id menggunakan CMS Wordpress. Itu kenapa, saya jadikan blog berbasis my.id sebagai blog pribadi saja.

Yah, memang ada harga ada fasilitas. Saya mau tak mau harus menulis di banyak blog untuk bahasan yang berbeda-beda. Namun, saya mengambil nilai positif dari hal tersebut, yaitu saya dapat mengembangkan blog saya untuk monetisasi. Mungkin saya juga mempertimbangkan untuk membeli domain baru untuk blog saya yang lain. Namun saya belum berencana sampai sana.

Oh iya, selain itu, saya juga akan mulai merambah ke media sosial untuk integrasi semua konten yang ada di TeddyTV. Nantikan kejutan dari TeddyTV yahh.

Semoga Pembaca semua dapat mengerti konsep baru TeddyTV ini. Berbagilah hal positif kepada semua orang, agar manfaat positifnya bisa dirasakan juga oleh semua orang (:

TeddyTV, AKTIF, KRITIS, MENGINSPIRASI
Perubahan akan selalu ada. Baik itu perubahan baik, ataupun perubahan buruk. Tinggal bagaimana caranya kita memaknai perubahan tersebut.

Bicara soal perubahan, blog saya ini akan melakukan sebuah perubahan. Entah benar-benar perubahan atau tidak, yang jelas ini merupakan salah satu langkah besar saya di dunia blogging selama 7 tahun ini. Oh iya, saya juga akan berbagi ilmu yang selama ini saya punya mengenai Mekatronika, Jurnalistik, Fotografi, dan Videografi, di blog baru saya, teddytv.my.id.

Nantikan perubahan blog ini pada tanggal 1 Agustus 2017 (;

 





Pemerintah Kota Bandung meluncurkan layanan bike sharing versi keduanya, yang dikenal dengan nama Boseh. Lalu, apa bedanya dengan layanan sejenis yang pertama?

Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya saya membuat artikel yang berhubungan dengan kuliner. Inspirasi artikel ini berawal dari teman kampus saya yang lagi “ngidam” Aice, sebuah merek es krim yang lagi ramai dibicarakan di media sosial. Sampai, dia bela-belain untuk mencari warung atau toko yang menjual es krim ini di sekitar kampus. Walaupun hasilnya nihil. Cara pemasaran Aice yang tidak seperti merek es krim yang biasa kita temui di minimarket dan mayoritas toko kelontong, membuat pencarian toko yang menjual es krim Aice ini menjadi sebuah cerita yang menarik. Jika sudah dapat, rasanya akan sama seperti saat kita berhasil memperebutkan kue wafer coklat dalam kaleng Khong Guan yang hanya ada 1 buah dalam 1 kalengnya. Yup, rasa bangga karena berhasil menemukan sesuatu yang langka.
Singkat cerita, akhirnya teman saya ini menemukan toko yang menjual es krim Aice. Tapi bukan di kawasan sekitar kampus, melainkan di kampung halamannya. Beruntung, karena rumahnya di kampung halaman dekat dengan toko tersebut. Alhasil, sekarang dia ga usah pergi berkeliling lagi hanya untuk mencari es krim Aice ini.
Lain cerita, ketika saya sedang berkeliling kawasan Teras Cihampelas saat H-1 peresmiannya. Setelah puas menikmati arsitektur “teras” ini, saya pun turun melewati tangga yang posisinya dekat dengan Ciwalk (Cihampelas Walk). Baru saja melangkah beberapa langkah dari tangga, mata saya terfokus pada sebuah freezer yang memajang logo Aice di depan sebuah toko kaos. Iya, Anda tidak salah baca, toko kaos. Ga salah nih toko kaos jualan es krim?
Lalu, timbul sebuah pertanyaan besar dalam diri saya. “Apa sih yang buat Aice ini hits banget?” Mungkin pertanyaan yang sama pun terlontar dalam pikiran Anda saat mendengar kata “Aice”. Untuk menjawab rasa penasaran saya tersebut, saya pun bergegas menghampiri toko kaos tersebut. Yang pasti saya tidak membeli kaos di toko tersebut, walaupun toko itu menjual kaos. Ketika saya menghampiri freezer Aice, penjaga toko pun mendatangi saya dan mulai menawarkan es krim Aice yang mungkin baru saja dijualnya beberapa bulan yang lalu. Dia seakan tahu bahwa es krim ini sedang banyak yang mencari, sampai dia bela-belain menunda “main HP”-nya untuk menawarkan es krim.
Sayang, ketika saya melihat freezernya, tidak ada es krim dengan rasa yang jadi bahan obrolan, yaitu rasa jagung dan semangka. Mata saya tertuju pada 2 rasa es krim yang lain, es krim rasa susu melon dan rasa coklat vanilla (CMIIW, yang jelas ada tulisan “Bingo” di situ.). Hal menarik dari es krim ini adalah harganya. Untuk 2 es krim yang menjadi pilihan saya di awal, sama-sama memiliki harga Rp 2.500,- / buah. Weww, harganya bisa setengah harga es krim yang biasa di minimarket! Mendengar harganya yang cukup murah, saya sempat terpikir untuk membeli dua-duanya. Namun sayang, uang di saku saya tinggal Rp 3.000,- ditambah ongkos pulang. Akhirnya, si Bingo harus mengalah pada susu melon. Saya pun membayar es krim yang saya pilih dan segera mencari tempat duduk agar saya bisa menikmati es krim ini
Sekilas, tidak ada yang spesial dengan es krim tersebut. Di luar ada lapisan warna hijau dan di dalamnya ada lapisan warna hijau muda (sebenarnya agak putih sih). Mungkin saja itu untuk membedakan rasa susu dan melonnya. Ketika saya menikmatinya, entah mengapa saya malah teringat dengan es potong yang biasa dijual menggunakan gerobak. Mungkin perasaan itu karena saya memilih rasa es krim yang juga tersedia di gerobak es potong. Teksturnya lembut dan rasa susunya terasa. Mengingat harganya yang hanya Rp 2.500,-, bagi saya es krim ini memiliki kualitas yang sebanding dengan es krim minimarket, bahkan bisa lebih dari itu. Karena sering kali saya menemukan es krim yang biasa dijual di minimarket rasa penambahnya jauh lebih terasa ketimbang rasa susu sebagai bahan utama es krim.
Namun, pertanyaan selanjutnya muncul, kenapa es krim ini bisa murah? Dan mengapa hanya dijual di tempat tertentu saja dan bisa dijual di tempat yang tidak biasa, seperti toko kaos tempat saya membeli barusan? Setelah es krim yang saya beli sudah habis, saya melihat bungkus dari es krim tersebut. Saya baru tahu bahwa ternyata es krim ini adalah impor dari Tiongkok dan dipasarkan untuk Indonesia dan Vietnam (Saya baru saja mendapat info dari teman Facebook saya bahwa tidak semua produk Aice adalah produk impor. Dia mengatakan bahwa es krim Aice rasa nanas, yang juga ada di freezer toko kaos tersebut, ternyata dibuat di Bekasi). Saya tidak terlalu mengerti urusan ekonomi. Faktor yang membuat harga Aice ini murah mungkin juga berlaku pada produk impor dari Negeri Tirai Bambu lainnya.
Mengenai cara pemasarannya, yang saya baca dari website distributor Aice di Indonesia, mereka menerapkan sistem yang hampir sama dengan produsen es krim lainnya. Orang yang mau menjadi agen diberikan fasilitas berupa freezer (entah diberikan secara gratis atau tidak). Tetapi, yang membuat saya penasaran, tertulis pada salah satu blog reseller Aice, harga es krim yang ada di pasaran ini adalah harga promosi. Hmm, hal ini mengingatkan saya dengan layanan transportasi online, seperti GO-JEK, Grab, dll, yang mengawali langkah mereka di Bandung dengan harga promo. Dugaan saya, sepertinya Aice ini menyasar konsumen kelas bawah hingga menengah ke bawah karena tempat penjualannya lebih banyak ditemui di warung-warung ketimbang di minimarket.
Populernya Aice saat ini mengingatkan saya dengan merek es krim yang pernah saya nikmati. Walls, Campina, dan Indoeskrim, ketiga merek tersebut bisa dibilang sering kita jumpai di pasaran dan juga mewarnai masa kecil saya. Walaupun, Indoeskrim akhir-akhir ini sedang kurang pemasarannya. Padahal, ketika saya SD, es krim ini mudah ditemui dimana-mana. Dulu, saya pernah ingin sekali menikmati es krim Monas yang iklannya pernah tayang di TV. Tau kan es krim Monas? Itu loh, es krim yang dibentuk mirip monas dengan cone luar yang terbuat dari plastik dan entah apakah ada cone yang renyah di dalam cone plastik tersebut. Yah, namanya juga keinginan, jadi masih mengira-ngira hehehe. Harganya yang jauh lebih mahal dari es krim Indoeskrim lainnya, membuat saya belum menikmati es krim ini dari dulu hingga sekarang. Sialnya, ternyata setelah merek Meiji dilepas dan hanya meninggalkan nama merek Indoeskrim, namanya diubah menjadi Rocks. Apakah bentuk “Monas” yang identik itu sudah berubah seiring perubahan namanya? Saya belum tahu. Lebih sialnya lagi, sekarang es krim tersebut seakan menghilang dan pemasarannya tidak semasif ketika saya kecil dulu. Beruntung, es krim ini katanya masih bisa ditemui di ritel modern dan toserba. Saat saya membuat artikel ini, keinginan saya tersebut muncul kembali. Semoga impian saya sejak kecil tersebut bisa terkabul yah hehe.
Selain kenangan yang sudah saya tulis di atas, saya juga pernah punya pengalaman dengan es krim Conello-nya Walls (sebelum namanya jadi Cornetto), dimana ketika gigi saya masih bermasalah, saya sering dibelikan es krim ini sepulang dari dokter gigi sebagai hadiah atas keberanian saya saat menghadapi alat-alat dokter gigi yang “menyeramkan” itu (Namanya juga anak kecil bro hehe). Bisa dibilang, kenangan masa kecil saya terhadap es krim mungkin hanya sedikit. Karena setelah saya beranjak SMP, SMK, sampai kuliah, saya sudah jarang menikmati es krim. Pernah, walaupun frekuensinya bisa dihitung dengan jari.
Saya baru tersadar, ternyata pasar es krim di Indonesia sekarang ini sudah dikuasai oleh 2 merek, yaitu Walls dan Campina. Freezer mereka selalu mejeng berdampingan di minimarket yang juga sedang menjamur. Kedua produsen es krim tersebut menggunakan cara pemasaran yang sama untuk menggaet konsumen. Perbedaannya hanya terlihat dari masif atau tidaknya promosi mereka di pasaran. Selain itu, kedua merek ini mengincar pasar konsumen menengah hingga konsumen kelas atas.
Sepertinya, Walls memposisikan diri sebagai dessert yang hanya bisa dinikmati oleh masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke atas hingga ke atas. Iklan-iklan TV-nya kadang menunjukkan sisi “premium-nya” es krim ini, dengan menjadikan artis nasional dan internasional menjadi bintang iklannya. Dukungan Unilever sebagai perusahaan multinasional mungkin membuat citra Walls sebagai es krim “premium” ini menjadi semakin kentara.
Eitss ingat, Walls juga sering menjadikan anak-anak sebagai target pemasaran dengan icon Paddle Pop-nya. Harga es krim di bawah naungan “Macan” ini ada yang lebih murah daripada es krim Walls lainnya. Ditambah, Walls sering mengeluarkan hal-hal yang bersifat “collectiable” dengan menggunakan icon Paddle Pop ini agar pelanggan setianya selalu membeli es krim ini, seperti koleksi sticker tokoh-tokoh Paddle Pop dalam sebuah petualangan. Setiap ada petualangan baru, Walls mengeluarkan varian rasa baru dalam lini ikon Paddle Pop. Ahhh, saya bersyukur es krim rasa coklat dan corak pelangi khas Paddle Pop masih ada sampai sekarang, meskipun petualangan Paddle Pop silih berganti. Dunia anak memang selalu berkaitan dengan sosok pahlawan pembela kebenaran dan sosok Paddle Pop merupakan sosok yang tepat untuk mewakili target pasar Walls terhadap anak-anak, bahkan hingga saat ini.
Cara pemasaran yang sama pernah juga dilakukan oleh Campina. Masih ingat icon Blue Jack dan duhh siapa sih uth icon ceweknya? Sayang, kedua icon endorser es krim Campina tersebut kurang mampu untuk menangkis dahsyatnya kisah petualangan Paddle Pop. Dan ketika iklan Campina tampil di TV, rasanya baru sekali mereka memakai artis nasional untuk mempromosikan produknya, yaitu Nikita Willy, yang mempromosikan es krim Concerto, saingannya Cornetto Walls. Meskipun promonya tidak terlalu masif, setidaknya wajah pemeran sinetron Putri yang Tertukar RCTI tersebut masih bisa kita temui di freezer-freezer Campina di minimarket. Ditambah, citra Campina masih baik karena tidak pernah membuat event yang sampai membuat Bu Risma, Walikota Surabaya, marah besar ketika taman kebanggaan Surabaya rusak akibat pelaksanaan event tersebut (Eh, di Bandung juga demikian deng).
Di tengah persaingan Walls dan Campina, ternyata Indoeskrim dan Diamond tetap bertahan walaupun sekarang ini sedang “merendah”. Merek-merek baru yang saya sendiri baru dengar pun juga bermunculan, seperti Glico Wings, Baronet, dan Aice, merek yang saya bicarakan di awal artikel ini. Merek-merek baru ini seakan memposisikan diri sebagai es krim alternatif untuk melawan dominasi merek Walls dan Campina di pasar es krim Indonesia, bersama produk es krim tradisional yang dijual menggunakan gerobak keliling dan produk es krim home made lainnya.
Eitss, jangan lupakan juga peran es krim keluaran restoran fast food dalam pasar es krim Indonesia, meskipun es krim keluaran McDonalds lebih mendominasi ketimbang restoran fast food lainnya. Siapa yang tidak tahu varian Macha Top yang pernah hits beberapa waktu lalu? Es krim keluaran restoran fast food bisa bersaing dengan kedua merek mayoritas karena es krim ini menyentuh konsumen yang ingin menikmati es krim di luar restoran, dan juga di dalam restoran, hal yang tidak bisa dilawan oleh merek es krim manapun karena kebijakan restoran yang tidak memperbolehkan pengunjung membawa makanan dan minuman dari luar restoran.
Jadi, apa yang bisa kita ambil dari artikel ini? Intinya adalah sekarang ini pasar es krim di Indonesia didominasi oleh 2 merek terkemuka. Dan beberapa merek dan produk es krim alternatif bermunculan untuk mengambil pangsa konsumen di bidang es krim, termasuk restoran fast food. Semua merek dan produk yang bersaing tersebut mempunyai ciri khasnya masing-masing. Kita sebagai konsumen lah yang menentukan mana es krim yang ciri khas-nya selalu diingat. Tetapi, tentu saja konsumen akan lebih mudah untuk mengingat ciri khas es krim jika “dibumbui” dengan kenangan indah, seperti kenangan masa kecil atau kenangan bersama mantan pacar *nah kan keceplosan hehe* (;
Bandung, 3 Februari 2017

#WaxhausLovesMom

WaxhausLovesMom2016

Hi Besties! Sebentar lagi ada hari special untuk orang ter-spesial juga nihh! Yapp! Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2016 nanti. Kali ini Waxine mau berbagi hadiah yang sangat menarik untukmu dan untuk ibumu yayy! Yaitu paket special dari @kanebo_id '&' Waxhaus lhoo!

WaxhausLovesMom2016_kanebo

Yuk langsung aja ikutan quiznya tanggal 16 – 22 desember 2016 nanti dengan posting foto ibumu waktu masih muda dan ceritakan moment kalian yang paling berkesan dengan follow @kanebo_id '&' tag @waxhaus_id (instagram) atau @waxhaus (twitter). Jangan lupa sertakan hashtag #WaxhausLovesMom & #kaneboindonesia yaa! Goodluck Besties!

Total Kunjungan

Arsip Blog