Teropong

Feature

Infografik

Opini

Visual

Anda lagi di

Selamat atas Perubahan Namanya, Rajawali Televisi

Sabtu, 3 Mei 2014, menjadi hari yang bersejarah bagi B Channel. Pada tanggal itu, B Channel mengudara untuk terakhir kalinya. Karena mulai Sabtu malamnya, B Channel secara resmi berganti nama menjadi Rajawali Televisi atau RTV. Sebenarnya pihak B Channel sendiri sudah menggembar-gemborkan nama baru ini di fanpage dan twitter B Channel serta melalui konfrensi pers dengan beberapa media. Namun baru Sabtu pagi B Channel terang-terangan memperkenalkan nama barunya kepada pemirsanya.

Lalu, apa saja yang akan berubah setelah B Channel menjadi RTV? Mungkin saya akan menganalisa dari program beritanya terlebih dahulu.

Seperti yang sudah saya tuliskan di posting Ada Apa dengan B Channel?, sejak bulan Maret 2014, B Channel menghadirkan 2 program berita dalam format hard news, yaitu Indonesia Menentukan dan Lensa Sore. Bahkan tak tanggung-tanggung, B Channel menghadirkan 2 pembaca berita terkemuka, Prabu Revolusi dan Cheryl Tanzil, yang sudah kita kenal masing-masing dari 2 stasiun TV nasional, yaitu Indosiar & Metro TV. Namun saya tidak menyangka, ternyata Sabtu pagi (3/5/2014), ada program berita baru yang tayang perdana di B Channel, yaitu Lensa Indonesia Pagi (LIP). Dan pada program tersebut, B Channel terang-terangan memperkenalkan logo dan nama barunya (RTV) ke semua pemirsa di jaringannya.

Saat Prabu Revolusi berdialog dengan pemimpin redaksi B Channel / RTV di LIP, Prabu sempat menanyakan, mengapa B Channel menghadirkan program berita. Karena seperti yang kita tahu, B Channel terkenal dengan banyak program-program luar negeri yang populer, seperti Top Gear, American Idol, X Factor, dll. Dan jarang sekali B Channel menayangkan program berita hard news seperti sekarang. Pemimpin redaksi B Channel / RTV menjelaskan, bahwa mereka (B Channel / RTV) ingin menghadirkan program berita yang independen dan tidak berpihak pada unsur politik tertentu. Mungkin B Channel / RTV akan seperti NET. & KompasTV yang menjunjung tinggi independensi dalam pemberitaan, alias bersih dari unsur politik tertentu.

Namun, ada yang saya sayangkan dalam program berita pagi B Channel / RTV ini. Tampilan & gaya pembacaan berita LIP terkesan meniru tampilan & gaya pembacaan berita IMS (Indonesia Morning Show) NET. Lihat saja dari newsticker bergilir di bawah layar yang memuat akun sosial media LIP, ada jam di sisi kiri bawah layar, dan singkatan nama program (LIP), hal itu sedikit mengingatkan kita dengan tampilan IMS. Selain itu, cara pengambilan gambarnya terkesan masih amatiran, malah seperti TV lokal. Namun hal itu masih saya maklumi karena saat itu adalah saat perdana B Channel / RTV menayangkan program berita pagi. Walaupun, seharusnya B Channel / RTV sudah belajar dari penayangan Lensa Sore & Indonesia Menentukan.

Baiklah, saya akan bahas program selain beritanya. Sebelum berganti nama, B Channel menghadirkan 2 program baru, Xtra Seleb dan Xtra Seru. Xtra Seleb adalah program infotainment yang tayang setiap jam 7 malam, dan Xtra Seru adalah program variety show yang dipandu oleh Indra Bekti & Chika Jessika. Hal ini jelas melenceng dari tujuan awal B Channel sebagai "Inspirasi Anda". Mungkin 2 program ini akan menjadi program perkenalan dari RTV nantinya.
Yang jelas, dari program Grand Launching Langit Rajawali yang digelar Sabtu malam, dapat dilihat bahwa RTV nantinya akan menayangkan program berita, program anak, program hiburan. Jangan khawatir, drama korea yang menjadi ciri khas B Channel masih ada di RTV. Nah anehnya, program yang menurut saya tidak edukatif, seperti infotainment, malah dihadirkan di RTV. Padahal, saat konferensi pers yang digelar B Channel / RTV, direktur utama RTV menerangkan bahwa nantinya RTV hadir sebagai wajah perubahan bagi pertelevisian Indonesia dengan menyiarkan program yang edukatif namun tetap menghibur. Masalahnya, infotainment juga program mendidik?

Sekarang saya membahas tentang target permirsa RTV ke depan. Direktur utama RTV menjelaskan juga bahwa target jumlah pemirsa RTV nantinya akan bertambah 2 sampai 3 kali lipat dari target pemirsa kelas A dan B. Saya kurang tahu apa itu target kelas A dan B, tapi yang saya tahu, target ini jelas tak masuk akal. Mengapa? Kita sekarang bandingkan dengan KompasTV dan NET., kompetitor utama RTV dalam pertelevisian berjaringan.

KompasTV yang baru 2 tahun lebih bersiaran dengan mengusung program "Inspirasi Indonesia" saja, sempat turun pamor gara-gara kehadiran NET. dengan menayangkan program infotainment yang dulu tidak diperbolehkan tayang. Namun alhamdulillah program infotainment KompasTV pendek umurnya. Sekarang KompasTV berupaya bangkit setelah program directornya pindah ke Indosiar.
Sekarang kita bandingkan dengan NET., stasiun TV yang didirikan oleh Wishnutama dan Agus Lasmono ini masih berusaha untuk menayangkan "perubahan" dalam pertelevisian Indonesia. Lihat saja acara-acaranya seperti The Comment, Sarah Sechan, Keluarga Masa Kini, dll. Baru sekian program saja yang umurnya pendek. Dan semuanya itu adalah program kartun yang berasal dari Spacetoon. Bahkan, NET. mengusung multichannel dan multiplatform dalam upayanya dalam bersaing di pertelevisian. Akun media sosial NET., baik di Twitter, Facebook, dan Google+ bisa dibilang aktif berkicau tentang apa yang ditayangkan oleh NET. Hal ini mengundang banyak pujian dari pemirsanya. Apalagi, kehadiran program-program NET. di Youtube menjadi nilai plus tersendiri.

Bandingkan juga dengan TV berjaringan kurang terkenal, SindoTV, atau yang dulu dikenal dengan SUNTV. SindoTV ternyata adalah pelopor pertelevisian berjaringan di Indonesia. Tapi sayangnya, SindoTV tidak bisa berkembang. TV berjaringan milik MNC ini bisa dibilang sebagai "tempat sampah" bagi 3 stasiun TV nasional MNC (RCTI, GlobalTV, dan MNCTV). Banyak program bekas ketiga stasiun TV tersebut yang ditayangkan di SindoTV. Dan lucunya, SindoTV malah ingin bersaing dengan KompasTV dengan menjadi stasiun TV berita (terlihat dari perubahan namanya dari SUNTV menjadi SindoTV).

Mungkin nama Sindo ini diambil dari nama koran milik MNC yang lumayan terkenal, Seputar Indonesia (sekarang Koran Sindo). Dan saat sebelum Pemilu Legislatif kemarin, SindoTV dijadikan "kendaraan politik" bagi WIN-HT dan Partai Hanura dengan menayangkan deklarasi pencapresan WIN-HT dan rapat Partai Hanura. Untungnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah cerdas dan tidak memilih stasiun TV yang menjadi kendaraan politik tersebut. Terlihat dari perolehan suara Hanura di Pileg kemarin yang rendah.

Bisa dibilang, KompasTV dan NET. tidak terlalu mementingkan rating, yang penting kualitas. Sedangkan RTV meneriakkan kualitas program, namun ternyata tetap mementingkan rating. Dan RTV pun sudah berani membuat target yang tidak masuk akal, bahkan bagi stasiun TV nasional seperti TVRI sekalipun. Bisakah RTV bersaing dengan 2 stasiun TV berjaringan yang sudah terkenal tersebut (KompasTV dan NET.)? Atau nasibnya malah seperti SindoTV yang dimiliki oleh MNC?
Dan pada Sabtu malam kemarin, B Channel resmi berganti nama menjadi RTV dalam program Grand Launching Langit Rajawali. Bisa dibilang program tersebut adalah program terakhir yang disiarkan B Channel dan program perdana yang disiarkan oleh RTV. Semoga perubahan nama ini dapat menjadi semangat bagi RTV untuk menginspirasi masyarakat Indonesia. Selamat atas perubahan namanya, Rajawali Televisi (RTV). Semoga RTV tetap menjadi "Inspirasi Anda" dengan persembahan "Untuk Indonesia".

Teddy S. Apriana

Seorang penyuka komputer, pegiat pers mahasiswa, dan analis televisi yang nyasar ke dunia mekatronika. Saat ini bekerja sebagai Electrician dan Content Writer. Diskusi soal TV dan Komputer? Add Line saya di @teddy.s.apriana dan Instagram @teddytv39 (;

1 komentar:

Total Kunjungan

Arsip Blog