Teropong

Feature

Infografik

Opini

Visual

Anda lagi di

Ada Apa dengan MNC Media?

"Bedebah banget sekarang MNC!" Mungkin itulah perkataan yang sedang terlintas dalam pikiran masyarakat yang aktif dalam pertelevisian, baik masyarakat yang aktif dalam mengawasi isi siaran televisi, pemerhati media, khususnya pemerhati televisi. Karena akhir-akhir ini, MNC Media telah melakukan serangkaian "perilaku abnormal" yang merugikan dunia entertainment dan dunia pertelevisian Indonesia. Mungkin kita semua telah mengetahui perilaku ini sejak MNC menjadi media partner dalam menyiarkan Panasonic Gobel Awards, dimana program-program MNC (baca: RCTI) selalu merajai tiap nominasi, semenjak MNC kebakaran jenggot saat mayoritas program Trans Corp (sekarang Trans Media) menjadi jawara dalam Panasonic Gobel Awards 2010.

Lalu kita juga mengetahui "perilaku abnormal" lainnya saat Pemilu 2014, baik Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden. Kita masih ingat ketika bakal calon presiden 2014, Wiranto, harus rela menyamar sebagai tukang becak, kenek bus, dalam program Mewujudkan Mimpi Indonesia. Ataupun program Kuis Kebangsaan yang ditayangkan RCTI tahun lalu yang secara terang-terangan melakukan money politic untuk kampanye WIN-HT (Wiranto - Hary Tanoe) sebagai calon presiden 2014-2019, padahal KPU (Komisi Pemilihan Umum) belum memulai masa kampanye bagi para calon presiden. Hingga akhirnya perolehan suara Partai Hanura, partai pengusung WIN-HT, tidak cukup untuk mengirim perwakilan mereka ke DPR-RI.

Kita juga masih ingat sebelum Pilpres digelar, Hary Tanoe sudah "berpindah ke lain hati" untuk mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden, padahal "mantan pasangannya", termasuk Partai Hanura, lebih memilih Jokowi sebagai calon presiden. Media-media di bawah naungan MNC Media dijadikan oleh Hary Tanoe sebagai alat pemenang Prabowo, bersama Aburizal Bakrie, yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar dan pemilik grup media VIVA (terutama tvOne). Perilaku "abnormal" MNC kembali lagi saat menampilkan hasil quick count pemilihan presiden, dimana di saat media yang lain menampilkan bahwa Jokowi unggul dalam Hitung Cepat, sedangkan MNC dan VIVA malah menampilkan Prabowo sebagai pemenang dalam quick count versi mereka. Akibatnya, lembaga survei yang bekerjasama dengan MNC dan VIVA diblacklist dari anggota perhimpunan lembaga survei di Indonesia.

Oke, sekarang kita lupakan masa lalu. Sekarang yang akan saya bahas kali ini dalam Fokus Teddy TV adalah tentang perilaku "abnormal" MNC Media yang semakin menjadi-jadi. Mulai dari menegakkan logo MNC Media, MNC TV, dan RCTI, dimana perubahan logo pada RCTI menimbulkan kontroversi, dan manipulasi pemenang nominasi dalam ajang penghargaan yang diadakan oleh RCTI yang merugikan dunia entertainment dan pertelevisian. Fokus Teddy TV juga akan membahas tentang perilaku GlobalTV yang secara tiba-tiba menjadi "pengemis iklan", dan perubahan nama SindoTV, stasiun TV berjaringan milik MNC, menjadi iNewsTV. Simak penelusuran Fokus Teddy TV dalam rangka ulang tahun ke-5 Teddy TV. Salam Pertelevisian Indonesia.

Catatan: Oh iya, logo 5 tahun Teddy TV kali ini sedikit berbeda, karena kita anti-mainstream :v

Teddy S. Apriana

Seorang penyuka komputer, pegiat pers mahasiswa, dan analis televisi yang nyasar ke dunia mekatronika. Saat ini bekerja sebagai Electrician dan Content Writer. Diskusi soal TV dan Komputer? Add Line saya di @teddy.s.apriana dan Instagram @teddytv39 (;

No comments:

Leave a Reply

Total Kunjungan

Arsip Blog