Teropong

Feature

Infografik

Opini

Visual

Anda lagi di

6 Juli 1940 - Kemayoran, Membuka Angkasa Indonesia untuk Dunia

Bekas menara pengawas Bandara Kemayoran, Jakarta (Sumber: Skycrapercity)
Sebuah pesawat mendarat di landasan pacu sebuah bandara. Pesawat tersebut adalah pesawat yang mengantarkan Tintin, Kapten Haddock, Profesor Calculus, dan tak lupa Snowy, anjing peliharaan Tintin, menuju Sydney. Sebelum sampai tujuan, pesawat tersebut singgah dahulu untuk mengisi bahan bakar di Kemayoran, Jakarta, bandara di landasan pacu tersebut.

Selama di sana, Tintin bertemu dengan teman lamanya, Piotr Skut, yang sudah menjadi pilot pesawat pribadi dari jutawan terkemuka, Laszlo Carreidas. Rombongan Tintin pun ditawari untuk bergabung dengan rombongan Carreidas yang kebetulan juga hendak menuju Sydney. Tak disangka, ternyata terjadi pembajakan di dalam pesawat yang ditumpangi Tintin dan teman-temannya tersebut. Tintin pun harus berurusan kembali dengan musuhnya, Rastapopoulos, yang sebenarnya hendak "berurusan" dengan Carreidas, khususnya masalah uang.

Petikan adegan di atas adalah adegan dari salah satu seri komik "The Adventure of Tintin" buatan komikus Belgia, Georges Remi atau Herge, yang berjudul Penerbangan 714 ke Sydney. Adegan tersebut juga ikut dianimasikan dalam serial kartun Tintin dengan judul yang sama. Komiknya sendiri pertama kali diterbitkan pada tahun 1968. Kala itu, sebelum Indonesia memiliki Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng yang beroperasi hingga saat ini, pernah ada satu bandara yang merupakan bandara internasional pertama di Indonesia yang didirikan di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Yup, itulah Bandar Udara Kemayoran, atau saat itu namanya dieja "Bandar Oedara Kemajoran".

Didirikan Belanda, Dikuasai Jepang, Diserahkan ke Indonesia

Landasan pacu bandara ini dibangun pada tahun 1934 dan secara resmi dibuka pada tanggal 8 Juli 1940. Namun, sebenarnya bandara ini sudah mulai beroperasi pada tanggal 6 Juli 1940, tepat 78 tahun yang lalu. Awal beroperasinya bandara ini ditandai dengan pendaratan pesawat jenis DC-3 Dakota milik maskapai penerbangan Hindia Belanda, KNILM (Koningkelije Nederlands Indische Luchtvaart Maatschapij) yang diterbangkan dari Lapangan Terbang Tjililitan (sekarang Bandara Internasional Halim Perdanakusuah).

Sebagai bandara internasional pertama, bandara ini memiliki dua landasan pacu yang bersilangan, yakni landasan pacu utara-selatan (17-35) dengan panjang 2.475 meter dan lebar 45 meter, serta landasan pacu barat-timur (08-26) dengan panjang 1.850 meter dan lebar 30 meter. Kedua landasan tersebut dapat mendukung pendaratan pesawat komersial antar negara, termasuk juga untuk pesawat-pesawat militer yang hilir mudik di kala Perang Dunia Kedua.

Meskipun bandara ini didirikan pada era Pemerintahan Hindia Belanda, namun negara bentukan Belanda di Indonesia ini hanya bisa merasakan manfaat bandara ini selama 2 tahun saja. Pada 9 Februari 1942, Angkatan Udara Kekaisaran Jepang menyerang bandara ini dan menimbulkan 5 "korban" pesawat, yaitu dua jenis DC-5, dua jenis Brewster dan sebuah pesawat jenis F.VII. Hingga akhirnya, Jepang dapat menguasai bandara ini pada Maret 1942.

Setelah peristiwa Hiroshima dan Nagasaki yang memaksa Jepang menyerah kepada Sekutu dan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945, bandara ini tidak serta merta menjadi milik Indonesia sepenuhnya. Bandara ini sempat digunakan oleh tentara Sekutu dan Nederlandsch IndiĆ« Civil Administratie (NICA) ketika perang kemerdekaan. Hal tersebut karena pemerintah Indonesia saat itu berkedudukan di Yogyakarta untuk menghindari Sekutu.

Barulah pada tahun 1950, setelah Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia, dan era negara federasi (Republik Indonesia Serikat atau RIS) berakhir, Bandara Kemayoran dapat dikelola secara penuh oleh Indonesia. Awalnya, pengelolaan penerbangan sipil dan bandara langsung dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Barulah pada tahun 1958, pemerintah membentuk Djawatan Penerbangan Sipil (sekarang Direktorat Jenderal Perhubungan Udara) untuk mengelola semua bandar udara yang ada di Indonesia, termasuk Kemayoran.

Pertengahan tahun 1960, pengelolaan Kemayoran diserahkan kepada BUMN khusus bernama Perusahaan Negara Angkasa Pura Kemayoran. Mulai saat itu, pemerintah menanamkan modal untuk pengembangan bandara, mulai dari pengalihan bangunan terminal, bangunan penunjang, runway, taxiway, apron, hanggar dan peralatan operasional. Meskipun nama BUMN tersebut berubah menjadi  Perum Angkasa Pura I, pengelolaan Kemayoran terus dilakukan hingga berhenti beroperasi pada tahun 1985.

Berhenti Beroperasi karena Terlalu Ramai

Presiden Indonesia pertama, Sukarno, sempat Kemayoran menjadi pangkalan awal pesawat-pesawat jet buatan Uni Soviet karena landasan pacu yang dimiliki Kemayoran cukup panjang sebagai landasan pacu pesawat-pesawat tersebut. Hal tersebut diwujudkan ketika jabatan Panglima Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dipegang oleh Marsekal Madya Omar Dhani mulai tahun 1962 sampai 1965. Kala oti, Sukarno hendak menjadikan armada AURI sebagai armada militer udara terkuat di belahan bumi selatan. Namun, setelah pangkat Panglima diganti, pesawat-pesawat tempur AURI akhirnya ditempatkan di Pangkalan Udara (Lanud) Iswahyudi, Madiun.

Seiring waktu, lalu lintas pesawat di Bandara Kemayoran semakin ramai. Pada awal 1980-an saja, frekuensi penerbangan bisa mencapai 100 ribu pesawat setiap tahunnya. Padahal, beban tersebut sudah dilimpahkan sebagian ke Bandara Halim Perdanakusumah. Selain itu, kawasan Kemayoran dianggap terlalu dekat dengan basis militer Indonesia di Bandara Halim Perdanakusumah. Hal tersebut mengakibatkan area penerbangan sipil di Kemayoran menjadi sempit, sementara lalu lintas udara meningkat pesat. Masalah tersebut bisa mengancam lalu lintas internasional di Indonesia, khususnya Jakarta.

Oleh karena itu, pemerintah mempersiapkan bandara internasional baru di kawasan Cengkareng. Setelah dianggap siap digunakan, bandara di Cengkareng pun resmi menjadi bandara utama di Jakarta (dan Indonesia) dan ditetapkan sebagai pintu gerbang udara Jakarta pada 1 April 1985. Bandara itu diberi nama para proklamator kemerderkaan Indonesia, Soekarno-Hatta.

Sehari sebelumnya, yaitu pada 31 Maret 1985 pukul 0:00 WIB, operasional Bandara Kemayoran dihentikan dan semua penumpang yang sudah boarding di Kemayoran diantarkan ke bandara baru di Cengkareng.

Riwayat Kemayoran Setelah Nonaktif

Setelah berhenti beroperasi, kawasan Bandara Kemayoran tidak serta merta menjadi "pengangguran".
Kawasan bandara ini sempat dijadikan sebagai tempat test flight dari pesawat buatan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Lalu pada tahun 1986, Indonesia Air Show dilaksanakan di kawasan tersebut.

Pengelolaan kawasan bekas Bandara Kemayoran akhirnya dikelola oleh Badan Pengelola Kompleks Kemayoran (BPKK) berdasarkan Kepres No 53 tahun 1985 junto Kepres no 73 tahun 1999. Pelaksana hariannya diserahkan kepada Direksi Pelaksanaan Pengendalian Pembangunan Kompleks Kemayoran (DP3KK). Pada 1992, DP3KK bekerja sama dengan pihak swasta, membangun rumah susun di Jalan Dakota yang dulunya adalah lahan apron.

Selain itu, di kawasan tersebut kini juga diselenggarakan Jakarta Fair Kemayoran (JFK) yang dulu dikenal dengan nama Pekan Raya Jakarta (PRJ) untuk menggantikan tempat pelaksanaan sebelumnya di Monumen Nasional (Monas). Acara tersebut diselenggarakan setiap sebelum dan sesudah hari ulang tahun DKI Jakarta, 22 Juni.

Sementara itu, dua landasan pacu Kemayoran tetap dipertahankan fungsinya sebagai jalan, walaupun "turun pangkat" menjadi jalan raya utama. Meskipun begitu, median atau pembatas jalan di jalan tersebut tidak dibuat permanen agar jalan tersebut dapat digunakan sebagai landasan pacu militer alternatif. Struktur landasan pacu Kemayoran yang menggunakan konstruksi standar landas pacu bandar udara internasional menjadi alasan utama penerapan tersebut.

Jalan bekas landas pacu utara-selatan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta diberi nama Jalan Benyamin Sueb, yang merupakan nama tokoh dan artis serbabisa kelahiran Jakarta yang juga merupakan warga asli Kemayoran. Sementara itu bekas landas pacu barat-timur diberi nama Jalan .

Namun, ada 2 bangunan bekas Bandara Kemayoran lainnya yang masih dipertahankan hingga saat ini dan statusnya telah menjadi bangunan cagar budaya. Kedua bangunan itu adalah terminal bandara dan menara Air Traffic Control (ATC), yang bentuk bangunannya sama persis seperti yang ditunjukkan dalam komik dan serial kartun Tintin. Itulah mengapa, bekas menara tersebut juga disebut dengan nama "Menara Tintin".

Teddy S. Apriana

Seorang penyuka komputer, pegiat pers mahasiswa, dan analis televisi yang nyasar ke dunia mekatronika. Saat ini bekerja sebagai Electrician dan Content Writer. Diskusi soal TV dan Komputer? Add Line saya di @teddy.s.apriana dan Instagram @teddytv39 (;

No comments:

Leave a Reply

Total Kunjungan

Arsip Blog